Sunday, 22 January 2017

Mengawali Titian 2017

Akhirnya saya kembali mengisi blog ini setelah setahun berlalu! Padahal dulu rasanya banyak banget ide dan pikiran-pikiran yang butuh ditampung, tapi seiring makin lebih sibuk dengan urusan pekerjaan dan kehidupan orang dewasa (halah) membuat saya sadar: ide saya banyak yang mandek. Muncul cuma sedetik dua detik, lalu ilang karena disibukkan sama yang lain T__T

Anw, di tahun 2016, salah satu langkah besar saya adalah menerima lamaran dari partner berantem saya setelah hampir dua tahun bersama melalui samudra LDR. Saya di Bontang, sementara doi di Gresik. Kami sama-sama bekerja di perusahaan pupuk, tapi memang beda perusahaan dan beda lokasi. Bagaimana kesan-kesan kami menjalani hubungan jarak jauh? Silakan tanya pasangan LDR lain karena jawaban dari saya bakalan sama: PAHIT! hahaha *nangis di pojokan*

Semoga tahun ini rencana kami untuk menyempurnakan separuh agama dilancarkan oleh Gusti Allah. Trus habis nikah gimana? LDR? Pindah? Perkara kehidupan kami pascamenikah biarkan saja menjadi kejutan-kejutan manis (atau pahit) nantinya, pasti dikasih jalan kan ya kalau niatnya baik?  Ya kan ya kan? Hehehehehehehe............. *menghibur diri*

Mohon doanya semoga acaranya lancar dan yang paling penting semoga kehidupan setelah hari h nya juga semakin baik dan menyenangkan. Saya juga mohon maaf kalau selama ini saya ada banyak salah sama manteman sekalian, mohon doa dan restunya untuk pernikahan kami. 

Bismillahirrahmanirrahiim..






pict : Afteryou Pictures
MUA : Dian Damai
Ring Bearer : @kkum.i

Sunday, 17 January 2016

Menjadi Bahagia



Menjadi Bahagia

Sebuah frasa singkat yang membuat manusia terus bersemangat menjalani hidup. Kerja keras, bolos sekolah, rajin belajar, piknik ke mana-mana, makan enak, belanja ini itu, karaokean sampe jejogedan, nonton konser artis idola, bahkan menikah pun pada dasarnya merupakan pemenuhan kebutuhan manusia untuk bisa hidup bahagia.

Ketika dihadapkan pada piramida Maslow (Maslow’s Theory of Needs), tentu yang membuat kita bahagia pertama kali adalah tercukupinya kebutuhan primer kita : sandang, pangan, papan. Ya mungkin kalau hidup di zaman sekarang ya tambah wifi atau paket data internet lah ya. Ebgitulah manusia, setelah primernya terpenuhi, ada yang sekunder, lalu ada yang tersier, sampai pada puncak piramida, di mana akhirnya manusia kembali pada kebutuhan tertingginya. Kembali ke pada nuraninya, back to his own thought and nature, aktualisasi diri. Manusia yang belum dapat memenuhi need levels sebelum puncak piramida mungkin akan banyak yang mengalami kesulitan membayangkan aktualisasi diri. Hidup ya untuk memperoleh uang, cari makan, baju, nongkrong sama temen, cari rumah, etc.

Kondisi settled ketika semua needs – sebelum self-actualisation need – itu terpenuhi untuk semua orang  bisa berbeda-beda juga. Ada manusia yang mencapai puncak piramida setelah dia kenyang, setelah dia punya rumah, setelah dia punya jabatan tinggi, atau setelah punya banyak teman. Manusia memang pada dasarnya unik (kalau boleh dibilang saya lebih prefer menggunakan kata aneh), sehingga teori Maslow ini cuma bisa dijadikan kerangka untuk melihat secara makro, tapi pada level mikro, susunan piramida itu menjadi tidak efektif. Atau bahkan the highest need bisa jadi bukan lagi self actualisation karena semakin anehnya manusia.

Manusia sebagai makhluk aneh yang terus berkembang mengikuti tren (entah apa isi otaknya juga berkembang) yang diciptakan oleh manusia lain yang dianggap keren atau bahkan dinabikan dan dituhankan. Bukan perkara salah atau benar, karena semua manusia punya alasan kuat untuk memberikan alasan bahwa pilihannya adalah pilihan yang benar. Ketika dirinya sama dengan yang lain, dia merasa aman, lalu dia pun bisa hodup dengan bahagia. Look, I am happy because I follow the rule, because  I dress just like the others. Manusia kemudian berlomba-lomba untuk menjadi sama. Namun ketika semua menjadi seragam, mirip satu sama lain, muncul orang-orang yang ingin jadi berbeda. Manusia lain yang menganggap mereka keren, lalu ikut untuk menjadi beda. Tapi tentu saja antara pionir dan follower the rule breaker ini tentu saja punya visi yang tidak sama. Si pionir terus mencari cara bagaimana supaya selalu beda, sementara si follower akan terus mengekor. There might be the new form of self-actualisation nowadays is by being different.

See? Manusia kemudian merasa bangga jika bisa berbeda dengan manusia lain saat ini. Berbeda kemudian sudah sepatutnya dirunut lagi: fashion style atau life style kah yang akan membuat manusia berbeda seutuhnya dengan manusia lain?

No fashion talk here since I’m not  a fashion-person. Hemat saya, berbeda dalam bentukan di luar doesn’t mean a thing kalau perilaku dan pemikiran di dalam kepalanya sama saja dengan kebanyakan orang di luar sana. I’m happy because I’m different from the others. What difference actually that makes you feel happy, my dear? Your visual look? Your knowledgable thought? Your behavior? Your attitude to others? Your relationship with God?

Menjadi bahagia adalah kendaraan yang kemudian digunakan manusia untuk menjalani hidup. Menjadi bahagia adalah mimpi nomor satu para manusia. Menjadi bahagia adalah pedoman hidup manusia untuk melangkah maju dan mencapai apa yang mereka inginkan. Asal aku bisa bahagia. Cliche. Kadang manusia lupa bahwa menjadi bahagia bukanlah tujuan yang nyata. Menjadi bahagia adalah fatamorgana yang membuat manusia menjadi semakin haus, semakin lapar, semakin rakus atas kebahagiaan itu sendiri. Manusia telah diperbudak oleh ilusi bernama kebahagiaan yang sesungguhnya tidak pernah sama dan nyata. Semua manusia adalah sama ketika menjadi tamak dengan mengatasnamakan kebahagiaan.


Manusia mungkin lupa bahwa menjadi baik merupakan sebuah pembeda yang nyata antara satu manusia dengan manusia yang lain. Do good, be good.





“Berbahagialah dengan jalan yang baik, Sayangku..”


Friday, 7 August 2015

Been A Year (even more!)

Voila!

Satu tahun sudah berlalu sejak saya meninggalkan rumah untuk merantau pertama kalinya. Banyak pengalaman senang susah yang tidak pernah terbayangkan sebelumnya akan muncul di hadapan saya. Perkenalan dengan industri pupuk yang sama sekali asing bagi saya rupanya sukses membuat saya jatuh cinta sampai saat ini. Berisiknya mesin pabrik, hilir mudik kendaraan berat, aroma amoniak yang pekat, naik turunnya harga gas yang berpengaruh pada HPP urea, sampai pada harga jual ammonia dan urea dunia yang selalu membuat ketar-ketir, semuanya menjadi pemandangan sehari-hari yang begitu seru dan bisa dibilang mengasyikkan.

Selama setahun, saya bisa mengenal puluhan teman baru dengan aneka ragam perilaku dan kisahnya. Saya bertemu orang-orang dengan latar belakang pendidikan yang sungguh saya belum familiar sampai kami disatukan di learning center. Mana pernah saya ngerti sedikitpun tentang pertanian, ilmu tanah, teknik mesin, teknik kimia, teknik fisika, sistem informasi, atau pun teknik informatika (see? Saya bahkan baru tahu sistem informasi dan teknik informatika adalah jurusan yang berbeda. Pardon me). Dipertemukan dengan orang-orang berlatar belakang pendidikan yang saaangat berbeda membuat saya mengosongkan gelas pemikiran saya. Masih banyak pengetahuan baru yang perlu dituangkan ke dalam otak saya. Betapa hidup dan bekerja bukan cuma terkait akuntansi, ilmu ekonomi, pemasaran, SDM, keuangan, hukum, ataupun psikologi dan teknik industri (maklum itu jurusan-jurusan yang sangat familiar dengan saya pas zaman kuliah). Ada dunia lain yang bisa mempertemukan saya dengan mesin-mesin raksasa, prilling tower, ataupun boiler batu bara yang belum pernah saya dengar sebelumnya, seumur hidup. Begitu juga dengan kenyataan bahwa betapa esensialnya kebutuhan pupuk pada kehidupan manusia di seluruh belahan bumi. Keajaiban pengolahan udara menjadi kristal-kristal kecil yang bisa membuat kita berfoya-foya makan ini itu karena tanaman pangan melimpah telah membelalakkan mata saya. See? Selama ini saya kira pupuk ya cuma kompos dan pupuk kandang. Padahal yang banyak digunakan saat ini di kebun maupun pertanian ya urea dan pupuk  majemuk semacam NPK (nitrogen, potasium, kalium). Bahkan saya baru tau urea itu berasal dari udara. What? Iya, dari udara kita bisa makan enak dan banyak! hahaha ~ Industri yang sebenarnya besar dan nyata keberadaannya, bahkan begitu penting untuk menopang kebutuhan pangan seluruh manusia, tapi selama empat tahun lebih sebulan saya di kampus, belum pernah sedikitpun disinggung oleh dosen. How pity

Menjalani hari-hari setahun belakangan di dua pabrik pupuk yang berbeda juga memberi insight baru dalam kamus keseharian. Berada di Kujang, saya merasakan betapa hecticnya kehidupan kota Karawang yang gosipnya punya UMR tertinggi senusantara yang sangat industrialis: macet dan gersang! (sad but true hihihi). Hidup bersama masyarakat Sunda sama sekali belum pernah saya alami seumur hidup. Selama empat bulan, saya mulai ngerti bagaimana meletakkan kunaon kadiye kaditeu ceunah mereun eta nteu maneh aing dalam pembicaraan sehari-hari hahaha.. Meskipun sering roaming di kantor kalau sesama orang Sunda sudah ngobrol atau ngegosip pake bahasa Sunda dan diakhiri dengan ceunah-ceunahan, tapi itu jadi satu pengalaman yang seru. Selama di Kujang juga saya jadi sering main ke Bandung, bisa sebulan sekali pasti ke sana. Maklum di Karawang khususnya Cikampek kurang lengkap fasilitas umum semacam mall, family karaoke, atau toko buku setaraf gramedianya. Mayaaan, masih bisa jajan cantik, belanja-belanji, atau piknik di Bandung atau Jakarta laaah.

Kujang plant

OJT Kujang team

accidental trip to Bandung w/ the team

farewell seminggu sebelum saya cabs ke Bontang w/ Geng Anti Move On 

Mulai tujuh november, hidup saya berubah lagi. Tidak ada ceunah atau mereun dalam percakapan sehari-hari (kecuali kalo lagi ngobrol sama temen yang dari Bandung). Ketika masuk kantor, kosa kata yang sering saya temui menjadi ‘iya nah’ ‘betul kah’ ‘botek’ ‘sotak’ yang mana adalah bahasa sehari-hari yang biasa dipakai oleh orang Bontang. Tidak berhenti pada kosa kata itu saja, cak cuk jancuk kon jangkrik wenak pancet gakruh rupanya juga jadi bahasa yang saaangat menyatu dalam kehidupan di sini. Rupanya baaanyak sekali orang jawa timur yang bekerja di PKT khususnya dan di Bontang secara umum sehingga percakapan cakcuk sangat mudah ditemui. Saya seperti berada di rumah simbah saya dan tidak seasing imajinasi saya sebelumnya tentang kultur masyarakat Bontang. Uniknya, di Bontang saya bertemu orang-orang dengan latar belakang demografis yang saaangat beragam. Batak ada, jawa barat ada, jawa tengah jogja ada, jawa timur banyak, bugis ada, papua ada, sumatera ada, nusa tenggara pun juga ada. Bisa dibilang mirip indonesia mini yang luar biasanya adalah setiap individu masih membawa style masing-masing. Warbiyasa pokokmen!

Empat bulan pertama saya dan teman-teman seangkatan tinggal di barak petrosea yang tersohor di kalangan karyawan Pupuk Kaltim atau yang pernah PKL di PKT. Barak kayu model rumah panggung dengan kamar mandi luar dan dapur buat bareng-bareng, tanpa AC, tanpa TV, dekat dengan alam. Kami bersebelas belajar hidup seadanya dengan fasilitas seadanya makan semampunya. Sejujurnya, selama kami di barak hubungan satu sama lain menjadi sangat akrab karena adanya persamaan nasib, anak rantau yang ngga ngerti apa-apa tentang Bontang (kecuali tito yang memang lahir sampe SMP di bontang).

Dalam satu tahun belakangan pula saya belajar melakukan hubungan jarak jauh antar pulau yang dulu rasanya sangat mustahil. Maklum, orang-orang terdekat saya semua tertinggal di jawa. Dan Bontang sendiri tidak memiliki akses ke Jawa semudah di Balikpapan. Kami harus menempuh lima sampai tujuh jam jalan darat dengan sensasi roller coaster dan jalan berlubang untuk mencapai bandara Sepinggan, satu-satunya akses menuju Pulau Jawa yang paling dekat dan cepat. Selama lima bulan pertama saya tidak pulang ke Jawa. Semua komunikasi hanya mengandalkan internet dan pulsa telpon serta SMS. Meskipun tampak takmungkin, tapi nyatanya bisa terlewati walaupun butuh kesabaran dan ketabahan. Bersyukurlah orang-orang yang masih bisa bekerja dekat dengan keluarga dan teman-teman dekatnya. Berjarak terlalu jauh bukan hal yang terlalu membahagiakan, apalagi ketika terjadi hal-hal seperti saat sakit atau kecelakaan seperti yang saya alami baru-baru ini. Saya dan ibuk di rumah jogja cuma bisa saling nangis via telpon karena kondisi yang tidak memungkinkan untuk saya ke jawa atau orang tua saya ke Bontang. Tapi itulah pembelajaran, lagipula Allah kan sudah bilang bahawa cobaan yang diberikan itu sesuai dengan kemampuan.

Bontang team! (minus Nury yang datengnya belakangan)

yang OJT di Pupuk Kaltim + yang Penempatan Pupuk Kaltim

 w/ barudak nu songong tapi selalu bisa diandalkan

the plant


Satu tahun berlalu. Hidup di dunia nyata tidaklah jauh lebih enak daripada saat masih bareng ayah ibu dan saudara di rumah. Mulai dari menu makan, beli perlengkapan rumah, isi kulkas, kebersihan rumah, jaga kesehatan, masalah keuangan, semuanya sudah harus bisa diatur sendiri. Menjaga hubungan dengan orang kantor dan teman di luar kantor juga menjadi satu pekerjaan rumah yang harus dilatih terus agar semakin baik dari waktu ke waktu. Dalam setahun pula banyak hal yang bisa saya capai, namun banyak pula kesempatan-kesempatan lain yang tidak berhasil saya manfaatkan. Penyesalan memang selalu ada, tapi untuk apa? Toh menikmati dan bersyukur atas apa yang saat ini ada dalam jangkauan kita jauh lebih menenangkan hati dan membahagiakan. Jadiii, berbahagialah!

“..Sometimes not getting what you want is

a wonderful stroke of luck” (Dalai Lama)


P.S. : fera had twinnies this month! They are Nawra and Naeema (awww~)

Sunday, 26 July 2015

Currently Listening to.. THEM!

Sudah lama saya ndak apdet lagu-lagu baru di dunia persilatan. Bukan kenapa-kenapa siiih, tapi ya memang baru sempet cari-cari lagi aja waqaqa. Jadiiii, ada beberapa musisi jenius yang membuat saya addicted dengan lagu-lagu mereka belakangan ini. Apa aja? Nih..

1.       Bigbang
Yoi bingiiits, boyband korea ini mencuri perhatian dengan comeback album mereka, MADE, dengan musik-musik yang nyentrik tapi earcatching dan enak. Bolehlah dibilang kalo G Dragon adalah salah satu jenius di Korea dengan membuat musiknya sendiri. Enam lagu yang sudah ditampilkan di publik adalah Bae-Bae, Loser, Bang Bang Bang, We like 2 party, Sober, dan If You. Untuk If You, belum ada official MV nya (entah bakal ada atau engga). Tapi lagu itu superspesial karena selain lagunya mellow, TOP di awal lagu nyanyi sodara sodara! OMG, suaranya yang berat dan maskulin yang biasanya ngerap itu terdengar desperado merdu gitu di lagu If You. Seung Ri juga suaranya lebih enakeun di If You. Pokonya enaklaaah lagu-lagu comeback mereka. Tidak bisa disangkal atau dibantah! Hahaha *maap lebay*


Bang Bang Bang-nya Bigbang

2.       Mondo Gascaro
Eks personel Sore ini akhirnya merilis lagu-lagu solonya. Sejauh ini yang saya dengerin baru tiga lagu sih, ada Saturday Light, Komorebi, dan Our Day Will Come. Sumpaaah, saya jatuh hati sama lagu-lagunya Om Mondo. Rasanya kaya nemu air putih dingin saat kehausan. Cant wait buat punya album fisik yang lebih banyak lagi koleksi lagu-lagunya. Serina deh, habis denger tiga lagunya Mondo, rasanya hepi dan adem. OZM gilak.

Sound From The Corner edisi Mondo dengan tiga single ozm nya

3.       Aurora Aksnes
Kalau yang satu ini adalah talented Nordic singer (tepatnya Norway) yang suaranya superbly amazing. Single yang udah rilis cukup banyak, antara lain Runaway, Running With The Wolves, Awakening, Under Stars, Murder Song, Warrior, dan Lucky. Kata orang-orang sih, dia the next big thing di Europe. Yang seru adalah versi recording dari Aurora ini sama kaya versi live-nya. Entahlah, tapi saya belakangan sering jatuh hati sama musik-musik dari artis Nordic sana. Dan Aurora adalah one of the best hit ever buat saya. Semoga dia makin mengglobal dan mendunia karena dia memang punya quality dan potensi yang besaaar nyahaha ~ (paan deeeeh..). Kesukaan bangetlah Aurora iniiiih <3 o:p="">

'Runaway' - Aurora. Aaa, how lovely!


4.       Isyana Sarasvati

Akhirnya saya nemu cewe indonesia yang cantik dan nyanyinya enak! Hahaha, sori kalau terdengar ngga sopan, tapi sejauh ini belum banyak penyanyi cewe muda di indonesia yang membuat saya se-amazed ini. Isyana ini adalah adek Rara Sekar-nya Banda Neira. Dia sekarang kayanya lagi mau ngeluncurin album pertamanya di bawah anungan Sony Music Indonesia. Agak beda ya sama Mba Rara Sekar yang milih jalur indie sama Mas Ananda Badudu. Isyana memberi pandangan baru sebagai penyanyi di Indonesia: muda, cantik, lulusan royal music college, jago main electone, soprano (penyanyi sopran), bikin lagu sendiri pun. Jenis suara dan teknik dia nyanyi pun sampe sekarang merupakan most favoritest (lebayyy) buat saya 

Salah satu penampilan Isyana nge cover 'Say Something' yang bikin merinding

Setelah dilihat-lihat selera musik saya random sekali ya hahaha, tapi ndapapa. Asal musiknya bagus dan bikin hepi buat saya asih ndamasyalah mau genre apa, asal negara apa, atau pake bahasa apa juga it's okaaay ~

Thursday, 23 July 2015

Been a year


Perjalanan tanpa tujuan telah menemukan akhir,
Sepatu kumal  dengan tali berikat satu sama lain perlahan mulai ditata rapi dalam kotak

Perjalanan yang baru kini mulai membuat saya tenggelam bersama rutinitas tujuh – lima (bahkan hingga delapan atau sembilan), ditemani pepohonan yang berjumlah lebih banyak ketimbang manusianya, diikuti oleh laporan keuangan dan dokumen rapat di setiap bulan. Perjalanan baru ini membawa satu dimensi baru tentang hidup: menemui kepala-kepala baru yang tak jarang isinya batu (jika bukan dengan cerita-cerita dan ide baru), menemukan hati-hati yang membuatmu menjadi lebih waspada dan  berhati-hati, menemukan bahwa jarak yang membuat rentang waktu dan ruang menjadikan setiap pertemuan menjadi lebih berarti.
Juga menemukan siapa yang tinggal karena betah atau karena butuh.




Thursday, 7 May 2015

Temu

















1.

Mari raih jari-jariku

Mari kita nikmati lekuk pagi yang masih basah
Pandangi buku-buku hawa yang menelanjangi kemuraman hati kita
Lalu sesapi aroma ketiadaan yang melegakan dari penatnya keberadaan
Kataku, takrindu kita pada kopi, 
laiknya para manusia yang menggeluti pahit hanya karena bosan
Kita hisap saja sari-sari kembang sepatu dari tangkainya yang manis
Lalu rayakan tetesan embun pada ujung-ujung subuh sebelum terang

Mari peluk rinduku

Tanpa kebingungan akankah subuh menjadi cerah ataupun mendung
Rasa rindu pada hangatnya keberpulangan jauh takterbendung
Setelah itu, kita habisi saja sisa mimpi perjalanan semalam 
dengan remah-remah puisi dan surat cinta

Baik yang kutulis dalam kata; ataupun yang kaupandangi dalam nyata

Tuesday, 17 February 2015

Dilan




Membuka lembaran Dilan: Dia Adalah Dilanku Tahun 1990 karya Pidi Baiq sukses membuat saya tersenyum, cengar-cengir, hingga tertawa kencang karena betapa manisnya tingkah laku Dilan saat jatuh cinta pada Lia. Dengan setting Bandung tahun 90-an, meskipun sama sekali buta dengan liku-liku Bandung, tapi mau tidak mau saya ikut membayangkan. Mulai dari jalanan menuju sekolah yang berubah nama jadi Jalan Milea, ibu Milea yang mantan vokalis band, kamar Dilan yang berisi poster Ayatollah Khomeini dan Mick Jagger, Dilan yang memberi hadiah TTS yang sudah diisi saat Milea ulang tahun, sampai pada suasana ketika Dilan dan Milea sedang kasak-kusuk saat membuat wedang jahe di dapur. Semuanya begitu lucu, ngeselin, tapi ya itu tadi, manis.

Lucu sekali membaca Dilan rasanya seperti membaca keseharian manusia pada umumnya. Bukan seperti novel cinta yang romantisnya mendayu-dayu penuh kata puisi, tapi malah penuh dengan banyolan yang muncul pada setiap percakapannya yang begitu familiar dan berhasil romantis dengan caranya sendiri. Pada kisah Dilan dan Milea lah baru saya sadari betapa lelaki yang jatuh cinta dan berani menunjukkan perasaannya dengan caranya sendiri yang unik menjelma menjadi sosok yang tampak gentle dan lovable. Betul kata testimoni di cover belakang Dilan, Pidi Baiq mungkin menulis Dilan sebagai cara untuk mengajari para lelaki mendapatkan gadis idamannya.

Membaca polah laku Dilan seperti menampilkan sederet potongan film pendek dalam ingatan. Tentang Dilan lain yang sama tengilnya, sama manisnya, namun beda hobinya. Dilan suka sastra, bikin puisi, dan dia anak geng motor. Dilanku tidak suka sastra, tidak suka bikin puisi, dan bukan anak geng motor walopun waktu kuliah selalu pake motor. Dilanku sama seperti lelaki mainstream masa kini yang suka main bola, lebih sering menghabiskan waktu dengan tidur, maen PES, FIFA, DOTA, baca komik online, atau main game RPG di tablet. Dilanku tidak suka menulis surat cinta atau membuat puisi romantis. Dia lebih suka mengungkapkan perasaannya secara langsung dan selalu berhasil membuat tertawa dengan jokes dan banyolannya yang lucu tapi ngeselin. Dilanku juga tidak bisa menggambar komik untuk dikirim ke surat kabar lalu honornya dibelikan coklat. Karena Dilanku bukanlah Dilan-nya Milea. Meski begitu, Dilanku dan Dilan Milea memiliki satu kesamaan. Mereka gigih mencintai dengan caranya sendiri, meski terkadang lucu atau tidak jarang malah terkesan absurd. Ya, karena merekalah para Dilan.

***

"SELAMAT ULANG TAHUN, MILEA.
INI HADIAH UNTUKMU, CUMA TTS.
TAPI SUDAH KU ISI SEMUA.
AKU SAYANG KAMU
AKU TIDAK MAU KAMU PUSING
KARENA HARUS MENGISINYA.
DILAN!"

"Nah sekarang kamu tidur. Jangan begadang. Dan, jangan rindu." 
"Kenapa?"
"Berat, kau gak akan kuat. Biar aku saja." 


"Milea, kamu cantik, tapi aku belum mencintaimu. Enggak tahu kalau sore. Tunggu aja" (Dilan 1990)


"Cinta sejati adalah kenyamanan, kepercayaan, dan dukungan. Kalau kamu tidak setuju, aku tidak peduli." (Milea 1990)

"Cinta itu indah. Jika bagimu tidak, mungkin kamu salah milih pasangan." (Pidi Baiq)